• Kamis, 12 Desember 2019

Walhi: 80 Persen Bukit dan Gunung di Bandar Lampung Rusak

Senin, 29 April 2019 - 08.41 WIB - 0

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung menilai kerusakan bukit dan gunung di Bandar Lampung sudah parah, yakni mencapai 80 persen.

Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Hendrawan mengatakan, kerusakan bukit hal ini disebabkan karena alih fungsi lahan.

"Kerusakan bukit dan gunung disebabkan karena alih fungsi lahan mencapai 70 sampai 80 persen," katanya, Minggu (28/4/2019).

Ia menjelaskan, berdasarkan data di Walhi Lampung, terdapat 32 bukit dan gunung di Bandar Lampung, hampir semua telah mengalami alih fungsi lahan, seperti penambangan, dan pembangunan perumahan.

"Hanya tinggal berapa bukit atau gunung yang belum terjamah dan mengalami alih fungsi lahan, di antaranya Gunung Sulah, dan Gunung Banten. Bahkan yang sebelumnya Gunung Kucing belum terjamah, kini sudah rusak," jelasnya.

Belum Ada Perda yang Mengatur Soal Penambangan Bukit

Menurut Hendrawan, sejauh ini baik eksekutif ataupun legislatif di Bandar Lampung belum merancang peraturan daerah untuk melindungi bukit-bukit tersebut, atas alasan tersebut baik penambang ilegal atau legal dengan semaunya menggerus keuntungan dari bukit-bukit yang ada.

"Nggak ada Perda yang mengatur soal penambangan bukit yang ada di Bandar Lampung, semestinya hal ini sudah sejak lama dirancang supaya para pengusaha yang menggerus bukit ada aturan dalam melakukan penggerusan atau pun penambangan," tandasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, Walhi sejak lama mengusulkan supaya ada Perda soal pengelolaan bukit, dengan adanya perda itu para penambang tidak sembarangan melakukan penggerusan.

Banjir Karena Aktivitas Penambangan Bukit

Warga Way Lunik, Panjang yang selalu menjadi langganan banjir menilai penyebab banjir, dikarenakan endapan lumpur di sungai Way Lunik, dan dangkalnya sungai tersebut.

“Sungai di Kelurahan Way Lunik jadi langganan banjir Mas, karena disebabkan sungai Way Lunik yang makin sempit karena ada endapan lumpur dan batu,” kata salah satu warga setempat yang tidak ingin disebutkan namanya.

Setelah ditelusuri olehnya, penggerusan bukit yang berada di aera jalan Ir. Sutami menjadi biang penyebabnya. Karena, aliran sisa material seperti batu dan pasir terbuang di Way Lunik sehingga terjadi endapan dan terjadi pendakalan serta pengecilan sungai.

“Hal ini kan merugikan masyarakat, karena aktivitas tersebut, makanya bisa banjir setiap hujan tiba,” tandasnya.

Baca Juga: Mengintip Dugaan Kecurangan Pemilu di Lampung Caleg Provinsi Sebar Uang Rp3 Miliar

Kepala BPBD Bandar Lampung, Syamsul Rahman mengatakan, memang untuk tahun ini Pemkot Bandar Lampung belum melakukan normalisasi sungai dan drainase.

"Namun jika untuk perbaikan hal ini akan kami koordinasikan dengan dinas PU,"ucapnya.

Terkait dengan penanganan banjir yang melanda Bandar Lampung , pihaknya pun meminta koordinasi dengan dinas lainnya, bahkan aparat lingkungan setempat, seperti camat hingga lurah.

"Karena penyebabnya bukan hanya drainase saja, melainkan sampah yang dibuang warga ke sungai," ucapnya.

Ia mengungkapkan, memang dari data BPBD sebanyak 6 titik kecamatan di Bandar Lampung tercatat rawan banjir. Titik-titik rawan banjir tersebut rata-rata berada di bantaran kali atau anak sungai.

"Yang rawan banjir itu, daerah bawah. Seperti Telukbetung Timur, Telukbetung Barat, Panjang, Bumi Waras, Telukbetung Selatan, termasuk Kedamaian," tandasnya. (Wanda)

  • Editor : Mita Wijayanti