Beranda Daerah Lampung Lampung Utara

Ini Kronologis Pengeroyokan Siswa SMPN 2 Kotabumi Lampung Utara

1213
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Tampak benjolan di kening Luki Priyanto (14), siswa SMP Negeri 2 Kotabumi, Lampung Utara akibat dari aksi pengeroyokan yang diterimanya di sekolah. Foto : Sarnubi/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Utara – Peristiwa pengeroyokan oleh Yazid bersama keluarganya terhadap Luki Priyanto (14) siswa SMP Negeri 2 Kotabumi diketahui bermula dari main lempar-lemparan.

Dikatakan Darmala, salah seorang guru yang ikut mengantar Luki untuk membuat laporan ke Polres Lampung Utara, kejadian perkelahian antara Luki dan Yazid bermula ketika Luki Priyanto bermain lempar-lemparan bersama temannya dan tak sengaja mengenai Yazid, Yazid yang tidak terima langsung menyerang Luki dan terjadilah perkelahian itu.

Darmala melanjutkan, Dewan Guru SMP Negeri 2 Kotabumi kemudian mendamaikan kedua anak didiknya yang berkelahi tersebut dan berinisiatif untuk memanggil wali kedua murid keesokan harinya, namun hal itu keburu berujung pengeroyokan oleh keluarga Yazid terhadap Luki Priyanto di parkiran lingkungan sekolah.

“Tadinya sudah damai, sudah diobatin, namanya berantem ya sudah selesai, dan kami menyarankan untuk memanggil kedua orang tua anak ini, kepada Yazid kita juga sudah memberikan saran untuk berobat jika harus berobat, nanti orangtuanya Luki yang mengganti dan membayar biayanya, dan selesai lah pada saat itu karena kedua anak ini sudah sepakat,” kata Darmala kepada sejumlah awak media seusai mengantarkan Luki Priyanto melapor ke Polres Lampung Utara, Selasa (10/9/2019).

BACA JUGA : Seorang Murid dan Guru SMP di Lampura Jadi Korban Pengeroyokan di Sekolah..

Atas kejadian itu dewan guru berinisiatif mengantarkan Luki Priyanto ke rumahnya karena jarak rumah Luki ke sekola lumayan jauh dan demi mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan terjadi. Kemudian pada saat akan mengantarkan Luki Priyanto pulang, keluarga Yazid telah ramai menunggu dan berupaya memukul Luki, pada saat itu Mastura salah seorang guru yang membonceng Luki menggunakan sepeda motornya terkena pukulan dari salah seorang keluarga Yazid sehingga motor yang ditumpangi Mastura dengan Luki terjatuh dan menimpa Mastura.

“Sebelumnya kami sudah antisipasi, saya berada disebelah kiri (Luki), ibu ini (Rosmala) dan pak Agung di tengah, untuk antisipasi, karena mereka itu (keluarga Yazid) datang mau menghajar Luki, Luki enggak kena yang kena ibu Mastura yang membonceng Luki dan mereka jatuh, saya enggak tau apa diterajang apa diapakan,” ungkap Darmala, yang disambung oleh Mastura, “Saya jatuh dan ditimpa motor,” kata Mastura.

Pada saat Mastura dan Luki terjatuh dari motor itu lah Luki dipukuli oleh keluarganya Yazid. Meski sebelumnya para dewan guru telah berusaha menghalangi Luki dari kepungan keluarga Yazid dan sampai-sampai kepala sekolah menjerit untuk menghentikan pengeroyokan itu.

“Ini anak saya tapi masih saja dikeroyok, makanya kami memanggil polisi dan mengantarkan Luki melapor, karena kalau tidak ada kepala sekolah mati dia (Luki) dikeroyok,” lanjut Darmala.

Atas kejadian itu, Marpuni ibu Luki Priyanto melaporkan peristiwa yang menimpa anaknya ke Polres Lampung Utara.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lampung Utara, AKP M Hendrik Apriliyanto mengatakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut atas laporan dari ibu dan korban beserta beberapa dewan guru yang ikut terkena dalam insiden pengeroyokan yang terjadi di lingkungan SMPN 2 Kotabumi, Selasa (10/9/2019) kemarin tersebut.

“Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mengumpulkan bahan keterangan untuk menentukan apakah peristiwa yang di laporkan masuk ke dalam pidana penganiayaan. Di mana menentukan perkara tersebut bisa naik sidik atau tidak nanti akan digelarkan terlebih dahulu,” kata AKP M Hendrik Apriliyanto.

Disisi lain, Luki Priyanto yang Kupastuntas.co temui di rumahnya, didampingi ibunya menyatakan belum bisa mengikuti pelajaran di sekolah karena masih trauma akan tindak pengeroyokan yang dialamininya.

“Saya takut dikeroyok lagi, saya belum mau sekolah kalau belum ada kejelasan untuk keselamatan saya,” kata Luki, yang disambung ibunya, bahwa dirinya juga belum mengizinkan anaknya untuk bisa mengikuti pelajaran seperti biasa kalau belum ada yang bertanggungjawab untuk menjamin keselamatan anaknya tidak akan mengalami tindakan serupa dikemudian hari.

“Dia belum saya bolehkan sekolah kalau belum selesai, karena saya sudah lapor ke polisi. Siapa yang bisa menjamin keselamatan anak saya kalau ada apa-apa karena kejadian ini. Sekarang aja kepalanya masih bengkak begini,” ungkap ibu Luki. (Sarnubi)

Facebook Comments