Beranda Bandar Lampung

Pasien Kecelakaan Sempat Tertahan Dua Hari Satu Malam di IGD RSUD Abdul Moeloek

713
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ruang perawatan Alamanda, RSUD Abdul Moeloek. Foto: Sule/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Pakai orang dalam untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan, ternyata masih berlaku di RSUD Abdul Moeloek. Sebaliknya, jika pasien tidak punya kenalan atau saudara yang kerja di rumah sakit, terkadang pelayanan yang diberikan lambat.

Hal itulah yang dialami warga asal Kabupaten Tulang Bawang saat membawa anaknya berobat di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, karena mengalami kecelakaan sepeda motor.

Ditemui di pelataran RSUD Abdul Moeloek pada Selasa (10/09), Rebo warga Tulang Bawang menuturkan pelayanan yang diperolehnya saat berobat di rumah sakit tipe A itu.

Ia menuturkan anaknya yang mengalami kecelakaan cukup lama mendapat pelayanan, meskipun sudah masuk ruang IGD. Pelayanan baru cepat setelah dirinya dibantu oleh temannya yang bekerja di RSUD Abdul Moeloek.

Baca Juga: Pasien Mengeluh Pelayanan Poliklinik di RSUD Abdul Moeloek Kerap Molor

“Pelayanan di RSUD ini akan lambat apabila tidak ada orang yang membantu dari dalam. Anak saya yang kini terbaring di ruang ICU, sebelumnya harus tertahan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD)  selama dua hari satu malam,” ungkapnya.

Namun, lanjut dia, setelah dibantu oleh rekannya yang merupakan pegawai di RSUD Abdul Moeloek, baru mendapatkan pelayanan dengan cepat.

“Awalnya sulit mendapatkan penanganan, nah setelah ada orang dalam baru cepat pelayanannya. Padahal saya pasien umum bukan BPJS,” ujarnya.

Ia melanjutkan, saat sebelum dibantu orang dalam, anaknya sulit dapat kamar dan sulit mendapat pelayanan scanning. “Bahkan ketika mau tambah darah, alasannya kosong. Tapi ketika ada yang mau donor untuk anak saya, alasannya ada saja yang inilah itulah. Tapi pas minta tolong lagi sama kawan itu baru ada darahnya, kan itu berarti mungkin ada permainan ya. Itu sih yang saya alami mas,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama tiga hari ini harus tidur di pelataran gedung, karena di ruang ICU penuh. “Saya tidur di teras karena di ruang ICU penuh, yang jaga hanya 2 orang. Tapi kalau malam ramai kok mas tidur di sini,” imbuhnya.

Dimintai tanggapannya, Kepala Sub Bagian Humas RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, Akhmad Sapri menjelaskan pasien tertahan di ruang IGD karena harus menjalani obesrvasi selama 2 kali 24 jam.

“Jadi ketika masuk IGD dilakukan observasi sampai kondisi baik. Ketika sudah baik baru bisa pindah ke ruangan, karena untuk apa ditahan di IGD, kalau memang bisa langsung dipindahkan maka akan langsung dipindahkan ke ruangan,” terang dia.

Dikatakan, semua pelayanan ada prosedurnya. Menurutnya, dokter yang memiliki kewenangan untuk menyatakan seorang pasien bisa pindah ruangan atau tidak. “Karena dokter yang tahu kondisinya, kita orang awam tidak mengerti, bagaimana prosedurnya,” tandasnya. (Sule) 

Telah terbit di Surat Kabar Harian Kupas Tuntas Edisi Rabu, 11 September 2019

Facebook Comments